Showing posts with label Sufistik. Show all posts
Showing posts with label Sufistik. Show all posts

Friday, March 16, 2012

Imam Khomeini: Sufi yang Mengguncang Dunia

Salaam Sahabats…
Meneladani sosok Pejuang kesayangan Allah merupakan salah satu cara kita agar memperoleh Kasih Sayang-Nya. Oleh karena itu, kami menghadirkan kisah Perjuangan Imam Khomeini ra. sosok ulama, pejuang ummat, filosof ahli hikmah agar kita lebih mengenal kehidupan beliau. Selamat merenungkan dan meneladaninya….
Di tengah-tengah umat yang dirundung kemalangan demi kemalangan, seorang lelaki Mukmin datang memberi harapan. Di tengah-tengah umat yang sudah kehilangan keberanian, ia berdiri tegak meneriakkan kebenaran. Jutaan kaum Muslimin seluruh dunia menemukan pemimpin mereka. Setelah ratusan tahun merintih dalam gelombang penindasan yang tak kunjung berhenti, pemimpin ini menyuarakan hati nurani mereka. Ia berbicara kepada dunia tentang Islam tidak dengan suara memelas. Ia tidak mengemis minta belas kasihan. Ia tidak merendahkan suaranya karena takut pembalasan. Ia membentak musuh-musuh umat dengan suara lantang. Dunia pun mendengar suara Islam yang menggetarkan, menggerakkan, membangkitkan, dan menghidupkan.

Lelaki Mukmin ini berkata, “Inilah kata-kataku yang terakhir bagi kaum Muslimin dan rakyat yang tertindas di seluruh dunia: Kalian tidak boleh duduk berpangku tangan dan diberi anugerah kemerdekaan dan kebebasan oleh orang yang berkuasa di negeri kalian atau oleh kekuatan asing. Kalian, wahai rakyat tertindas di dunia, hai negeri-negeri Muslim. Bangun, ambilah hak kalian dengan gigi dan cakar kalian.”
Umat Islam terpesona mendengar suara ini. Biasanya, mereka mendengar pemimpin Islam yang menyuruh mereka bersabar, yang memberikan obat penenang, yang meniupkan impian. Suara lelaki ini lain. Ia menggugah, ia mengelektrifisir, ia menghentak.
Maka, jutaan umat Islam bangun dari tidur mereka yang panjang. Di bawah komando lelaki ini, rakyat Iran menumbangkan tiran yang paling kuat di Negara Dunia Ketiga. Akan tetapi, suaranya tidak hanya menggerakkan Iran. Suaranya melintas ke seluruh penjuru dunia. Bangkitlah jutaan umat Muhammad: sebagian tersentak, sebagian besar hanya menggeliat. Apa pun yang terjadi, jalan sejarah telah berubah. Harian Independent dari Inggris menulis, “It’s rare than one person, is given the mission of changing the path history. The mission was given to Ayatullah Khomeini.” Ya, dialah Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomeini.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan pengalaman orang-orang yang pernah berhadapan dengan tokoh besar ini. Saya ingin mulai dengan pengalaman Robin Woodsworth Carlsen, seorang filusuf Kanada yang non-Muslim. Setelah itu, saya akan hantarkan kisah-kisah kehidupan Imam seperti yang diceritakan oleh orang-orang yang dekat dengan Imam Khomeini, yaitu Sayyid Akhmad Khomeini dan istrinya.
Robin Woodsworth Carlsen adalah seorang penyair dan filusuf Kanada. Ia menulis beberapa buku filsafat, antara lain Enigma of An Absolute: “The Consciousness of Ludwig Wittgenstein”. Sebagai wartawan, ia telah tiga kali berkunjung ke Iran. Pada kunjungan yang ketiga, Februari 1982, beserta para peserta konferensi internasional, ia berkesempatan beraudensi dengan Imam Khomeini di Jamaran. Pertemuan dengan Imam diceritakannya dengan bahasa yang sangat filosofis dalam bukunya “The Imam and His Revolution: A Journey Into Heaven and Heil”. Sangat sulit bagi saya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa yang mudah dicerna. Saya akan kutipkan secara langsung sebagian saja dari tulisannya, dan di sana sini saya akan menceritakan kembali dalam narasi saya sendiri.
Pada malam 8 Februari diumumkan bahwa peserta konferensi akan mendapat kesempatan mendengarkan pidato Imam. Carlsen melihat pertemuan ini sebagai kesempatan penting untuk meneliti Imam secara kritis. Sebagai seorang filusuf, ia sudah sering berjumpa dengan orang-orang yang dianggap suci, tetapi ia meragukan kesucian Imam Khomeini. “Terlalu banyak dendam, darah, dan absolutisme” di sekitar pribadi Imam. Sebagai wartawan Barat, ia sudah memperoleh gambaran tentang sosok Imam Khomeini yang sangat jelek. Majalah Times telah mengungkapkan banyak hal buruk tentang kehidupan Imam. Dengan kerangka pikiran seperti itulah, Carlsen ingin mengamati Imam dari dekat. Sebagai filusuf, ia sudah mempersiapkan pikiran yang kritis, pikiran yang setiap saat siap mengevaluasi orang secara radikal.
Anehnya, begitu ia naik bus menuju Jamaran, hatinya dipenuhi perasaan yang luar biasa. Hatinya ikut bergejolak sebagaimana dirasakan para penumpang bus lainnya. Ia merasa kalau sebentar lagi ia akan menyaksikan sebuah peristiwa hebat.
Sekarang kita dengarkan cerita Carlsen: Saya duduk di bagian depan ruangan. Kursi Khomeini, yang tertutup kain putih, terletak di atas panggung di hadapan kami kira-kira lima belas kaki di atas lantai. Seorang mullah bercambang putih mengawasi kami ketika kami memasuki ruangan. Ia memperbaiki mikrofon, sambil dengan sabar menunggu kedatangan Imam dari pintu tertutup di sebelah kanan panggung tempat ia memberikan ceramahnya. Ruangan dipenuhi harapan yang disampaikan dengan berbisik. Sekali-kali sebagian orang Islam meneriakkan slogan atau ayat-ayat Al-Quran, lalu diikuti oleh ratusan orang Islam dan pengawal revolusi yang hadir di situ. Tidak seorang pun diperbolehkan merokok. Sikap penghormatan yang menguasai orang-orang yang menunggu Imam telah mengubah pemandangan yang biasanya kita lihat di Iran. Ketika saya mengamati panggung tempat Imam Khomeini menyampaikan ratusan pidatonya, mata saya menangkap ketenangan, kemurnian, dan kesegaran fisik yang melayang-layang, atau lebih tepat lagi berkumpul dalam sebongkah energi yang kokoh dan tembus cahaya, yang sangat berbeda dengan hotel tempat kami menginap, bahkan berbeda dengan lingkungan mana pun yang pernah saya lihat dalam dua kali kunjungan saya ke Iran. Masjid saja tidak memancarkan sifat-sifat ini, sosok energi yang bulat. Mungkin Imam itu seorang manusia yang tercerahkan seorang sufi sejati atau barangkali lebih dari itu? Semua tanda menunjukkan bahwa apa yang terjadi di sini menyeruak kepada apapun yang terjadi di Iran di luar ruangan ini. Perasaan seperti ini hanya mirip dengan apa yang saya rasakan ketika saya berada di front pertempuran atau ketika saya berjalan-jalan di pemakaman Beheste Zahra. Saya hanya dapat menjelaskan perasaan ini dengan berasumsi bahwa barangkali kesyahidan itu ada, bahwa pelepasan ruh suci yang tiba-tiba dari tubuh, dengan membawa ruh itu ke langit karena niat syahid, telah menciptakan energi yang suci, energi yang dibekahi Allah sendiri.

Friday, June 10, 2011

Doa Istri Solehah

Siapapun pasti akan bahagia jika istri mampu berdoa seperti ini:
Ya Allah..Kau ampunilah dosa ku yang telah kuperbuat.
Kau limpahkanlah aku dengan kesabaran yang tiada terbatas.
Kau berikanlah aku kekuatan mental.
Kau karuniakanlah aku dengan sifat keridhaan.
Kau peliharalah lidahku dari kata-kata nista.
Kau kuatkanlah semangatku menempuhi segala cobaan Mu.
Kau berikanlah aku sifat kasih sesama insan.

Ya Allah…
Sekiranya suamiku ini adalah pilihan Mu di Arsh.
Berilah aku kekuatan dan keyakinan untuk terus bersamanya.
Sekiranya suamiku ini adalah suami yang akan membimbing tanganku dititianMu.
Kurniakanlah aku sifat kasih dan ridha atas segala perbuatannya.
Sekiranya suami ku ini adalah bidadara untuk ku di Jannah Mu.
Limpahkanlah aku dengan sifat tunduk dan tawaduk akan segala perintahnya.
Sekiranya suami ku ini adalah yang terbaik untukku di Dunia Mu.
Peliharalah tingkah laku serta kata-kataku dari menyakiti perasaannya.
Sekiranya suami ku ini jodoh yang dirahmati oleh Mu.
Berilah aku kesabaran untuk menghadapi segala keanekaragamnya.

Tetapi ya Allah…
Sekiranya suami ku ini ditakdirkan bukan untuk diriku seorang.
Kau tunjukkanlah aku jalan yang terbaik untuk aku arungi segala takdirMu.
Sekiranya suami ku tergoda dengan keindahan dunia Mu.
Limpahkanlah aku kesabaran untuk terus membimbingnya.
Sekiranya suamiku tunduk terhadap nafsu yang melalaikan.
Kurniakanlah aku kekuatan Mu untuk aku memperbetulkan keadaanya.
Sekiranya suamiku menyintai kesesatan.
Kau pandulah aku untuk menarik dirinya keluar dari terus terlena.

Ya Allah…
Kau yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku.
Kau juga yang Maha Mengampuni segala kesilapan dan keterlanjuranku.
Sekiranya aku tersilap berbuat keputusan.
Bimbinglah aku ke jalan yang Engkau ridhai.
Sekiranya aku lalai dalam tanggungjawabku sebagai isteri
Kau hukumlah aku di dunia tetapi bukan di akhirat Mu
Sekiranya aku ingkar dan durhaka
Berikanlah aku petunjuk kearah rahmatMu
Ya Allah…
Sesungguhnya aku lemah tanpa petunjukMu.
Aku buta tanpa bimbingan Mu.
Aku cacat tanpa hidayah MuAku hina tanpa Rahmat Mu.

Ya Allah,
Kuatkan hati dan semangatku.
Tabahkan aku menghadapi segala takdir dan cobaanMu.
Jadikanlah aku isteri yang disenangi suami.
Bukakanlah hatiku untuk menghayati agama Mu.
Bimbinglah aku menjadi isteri Solehah.
Hanya pada Mu,
Ya Allah

Ku mohon segala harapan.
Karena aku pasrah dengan takdirMu.
Karena aku sadar hinanya aku.
Karena aku insan lemah yang kerap keliru.
Karena aku lalai dengan keindahan duniaMu
Karena kurang kesabaran ku menghadapi ujian Mu
Karena pendek akal ku mengarungi ujian Mu

Ya Allah Tuhanku…….
Aku hanya ingin menjadi isteri yang dirahmati.
Isteri yang dikasihi.
Isteri yang solehah.
Isteri yang senantiasa dihati
Amin, Ya Rabbi Allamin…….
Source : deltapapa.wordpress.com

Thursday, June 9, 2011

Mengapa Syariat harus bermusuhan dengan Hakikat ?

Selama ini diasumsikan bahwa antara syari’ah dengan tasawuf merupakan dua sisi ang selalu dihadapkan secara vis a vis. Fanatisme syari’ah (baca : fuqaha) memandang haram” atas praktik tasawuf dengan berbagai dalil dan argumentasi, baik secara naql maupun nalar. Sementara para pelaku tasawuf tidak ketinggalan dalam mengkritik para fuqaha yang hanya melihat hitam di atas putih dan formalitas belaka, tanpa menangkap essensi Islam. Rumor di kalangan masyarakat jawa, bahwa syaringat (bacaan orang jawa) itu dipahami nek sare njengat atau kata Mekah dipahami nek turu mekakah menjadi salah satu bukti kesenjangan antara syariat dan tasawuf.

Patut dicatat, bahwa insiden al-fitnah al-kubra yang menghantarkan jatuhnya Khalifah Ali dari ke-khilafah-an, diganti Muawiyah merupakan sumber utama bagi perpecahan kaum muslimin dalam berbagai sekte dan aliran.

Para analis sepakat bahwa, peristiwa ini awalnya bersifat politis, kemudian merembet kepada wilayah aqidah serta aspek-aspek keagamaan lainnya. Fenomena semacam ini pada akhirnya juga mewarnai hampir semua polemik di tubuh umat Islam yang mengatasnamakan agama.

Al-Hallaj (w. 309 H) diekskusi dengan dakwaan menyebarluaskan ajaran hulul dalam tasawuf. Ajaran itu diputuskan sesat oleh penguasa berdasar legitimasi para fuqaha mazhab dhahiriy.

Penentuan sesat atas pengalaman batin al-Hallaj jelas lebih bermuatan politis, karena keberpihakan al-Hallaj –sebagai seorang shufi agung yang sudah tidak ada ruang untuk membenci– kepada rakyat kecil dan kelompok marginal; seperti syi’ah, qaramithah serta non-muslim.

Di pula Jawa, kasus serupa dialami Syaikh Siti Jenar (Lemah Abang) yang didakwa menyebarkan ajaran manunggaling kawula Gusti, sehingga oleh para wali kerajaan saat itu divonis hukuman pancung. Dari sinilah akhirnya para fuqaha yang dimotori kepentingan politis penguasa menciptakan ketegangan yang tak berujung antara syariah dan tasawuf. Kebebasan para shufi dalam menaungi pengalaman batinnya serba diatur oleh hukum formal. Karena itu, image pemisahan syariah dan tasawuf pada mulanya lebih sebagai fenomena politisasi agama yang berimbas pada dichotomi dua unsur utama ajaran Islam tersebut oleh kalangan awam atau dijadikan senjati bagi para penguasa untuk mempertahankan status quo.

Distingsi kedua aspek penting dalam ajaran Islam tersebut sangat dimungkinkan, karena antara keduanya memiliki sisi yang jelas tidak dapat dipersamakan. Bahwa tasawuf itu lebih menempati wilayah batin atau hati, suatu daerah yang tak dapat ditembus oleh inderawi manusia. Wilayah ini bersifat immateri yang permanen. Ia hanya dapat diteropong melalui cahaya (nur) emanasi Tuhan ke dalam masing-masing qalbu manusia yang hanya dapat dideteksi melalui bashirah (mata hati). Sementara, syariah bersifat lahiriah yang legal-formal yang dapat ditangkap mata telanjang.

Integrasi syariah dengan tasawuf dengan demikian menjadi syarat mutlak bagi kesempurnaan seorang muslim. Syariah merupakan elaborasi dari kelima pilar Islam, sedangkan tasawuf berpangkal pada ajaran ihsan,

an-tabudallaha ka-annaka tarah, fa-in-lam takun tarah, fainnahu yarak,

hendaknya kalian beribadah (bersyariat) seakan-akan kamu milhat-Nya, jika tidak sesungguhnya Dia melihatmu.

Implikasinya, jika dalam syariat diwajibkan thaharah (bersuci) sebelum melaksanakan ibadah, maka untuk mampu menembus penglihtan Tuhan, tasawuf mewajibkan penyucian diri melalui pintu taubat.

Kemudian apabila seorang sedang shalat; syariat mengharuskan memenuhi syarat dan rukun, sementara tinjauan ihsan (shufistik) mengharuskan aktivitas hati yang tulus, hudlur dan khusyu. Semakin mendalam realisasi shufistik seseorang, pada gilirannya justeru semakin meningkatkan kualitas ke-Islam-an dan syariah orang tersebut dalam mencapai derajat muhsin.