Meneladani sosok Pejuang kesayangan Allah merupakan salah satu cara kita agar memperoleh Kasih Sayang-Nya. Oleh karena itu, kami menghadirkan kisah Perjuangan Imam Khomeini ra. sosok ulama, pejuang ummat, filosof ahli hikmah agar kita lebih mengenal kehidupan beliau. Selamat merenungkan dan meneladaninya….
Di tengah-tengah umat yang dirundung kemalangan demi kemalangan, seorang lelaki Mukmin datang memberi harapan. Di tengah-tengah umat yang sudah kehilangan keberanian, ia berdiri tegak meneriakkan kebenaran. Jutaan kaum Muslimin seluruh dunia menemukan pemimpin mereka. Setelah ratusan tahun merintih dalam gelombang penindasan yang tak kunjung berhenti, pemimpin ini menyuarakan hati nurani mereka. Ia berbicara kepada dunia tentang Islam tidak dengan suara memelas. Ia tidak mengemis minta belas kasihan. Ia tidak merendahkan suaranya karena takut pembalasan. Ia membentak musuh-musuh umat dengan suara lantang. Dunia pun mendengar suara Islam yang menggetarkan, menggerakkan, membangkitkan, dan menghidupkan.
Lelaki Mukmin ini berkata, “Inilah kata-kataku yang terakhir bagi kaum Muslimin dan rakyat yang tertindas di seluruh dunia: Kalian tidak boleh duduk berpangku tangan dan diberi anugerah kemerdekaan dan kebebasan oleh orang yang berkuasa di negeri kalian atau oleh kekuatan asing. Kalian, wahai rakyat tertindas di dunia, hai negeri-negeri Muslim. Bangun, ambilah hak kalian dengan gigi dan cakar kalian.”
Umat Islam terpesona mendengar suara ini. Biasanya, mereka mendengar pemimpin Islam yang menyuruh mereka bersabar, yang memberikan obat penenang, yang meniupkan impian. Suara lelaki ini lain. Ia menggugah, ia mengelektrifisir, ia menghentak.
Maka, jutaan umat Islam bangun dari tidur mereka yang panjang. Di bawah komando lelaki ini, rakyat Iran menumbangkan tiran yang paling kuat di Negara Dunia Ketiga. Akan tetapi, suaranya tidak hanya menggerakkan Iran. Suaranya melintas ke seluruh penjuru dunia. Bangkitlah jutaan umat Muhammad: sebagian tersentak, sebagian besar hanya menggeliat. Apa pun yang terjadi, jalan sejarah telah berubah. Harian Independent dari Inggris menulis, “It’s rare than one person, is given the mission of changing the path history. The mission was given to Ayatullah Khomeini.” Ya, dialah Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomeini.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan pengalaman orang-orang yang pernah berhadapan dengan tokoh besar ini. Saya ingin mulai dengan pengalaman Robin Woodsworth Carlsen, seorang filusuf Kanada yang non-Muslim. Setelah itu, saya akan hantarkan kisah-kisah kehidupan Imam seperti yang diceritakan oleh orang-orang yang dekat dengan Imam Khomeini, yaitu Sayyid Akhmad Khomeini dan istrinya.
Robin Woodsworth Carlsen adalah seorang penyair dan filusuf Kanada. Ia menulis beberapa buku filsafat, antara lain Enigma of An Absolute: “The Consciousness of Ludwig Wittgenstein”. Sebagai wartawan, ia telah tiga kali berkunjung ke Iran. Pada kunjungan yang ketiga, Februari 1982, beserta para peserta konferensi internasional, ia berkesempatan beraudensi dengan Imam Khomeini di Jamaran. Pertemuan dengan Imam diceritakannya dengan bahasa yang sangat filosofis dalam bukunya “The Imam and His Revolution: A Journey Into Heaven and Heil”. Sangat sulit bagi saya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa yang mudah dicerna. Saya akan kutipkan secara langsung sebagian saja dari tulisannya, dan di sana sini saya akan menceritakan kembali dalam narasi saya sendiri.
Pada malam 8 Februari diumumkan bahwa peserta konferensi akan mendapat kesempatan mendengarkan pidato Imam. Carlsen melihat pertemuan ini sebagai kesempatan penting untuk meneliti Imam secara kritis. Sebagai seorang filusuf, ia sudah sering berjumpa dengan orang-orang yang dianggap suci, tetapi ia meragukan kesucian Imam Khomeini. “Terlalu banyak dendam, darah, dan absolutisme” di sekitar pribadi Imam. Sebagai wartawan Barat, ia sudah memperoleh gambaran tentang sosok Imam Khomeini yang sangat jelek. Majalah Times telah mengungkapkan banyak hal buruk tentang kehidupan Imam. Dengan kerangka pikiran seperti itulah, Carlsen ingin mengamati Imam dari dekat. Sebagai filusuf, ia sudah mempersiapkan pikiran yang kritis, pikiran yang setiap saat siap mengevaluasi orang secara radikal.
Anehnya, begitu ia naik bus menuju Jamaran, hatinya dipenuhi perasaan yang luar biasa. Hatinya ikut bergejolak sebagaimana dirasakan para penumpang bus lainnya. Ia merasa kalau sebentar lagi ia akan menyaksikan sebuah peristiwa hebat.
Sekarang kita dengarkan cerita Carlsen: Saya duduk di bagian depan ruangan. Kursi Khomeini, yang tertutup kain putih, terletak di atas panggung di hadapan kami kira-kira lima belas kaki di atas lantai. Seorang mullah bercambang putih mengawasi kami ketika kami memasuki ruangan. Ia memperbaiki mikrofon, sambil dengan sabar menunggu kedatangan Imam dari pintu tertutup di sebelah kanan panggung tempat ia memberikan ceramahnya. Ruangan dipenuhi harapan yang disampaikan dengan berbisik. Sekali-kali sebagian orang Islam meneriakkan slogan atau ayat-ayat Al-Quran, lalu diikuti oleh ratusan orang Islam dan pengawal revolusi yang hadir di situ. Tidak seorang pun diperbolehkan merokok. Sikap penghormatan yang menguasai orang-orang yang menunggu Imam telah mengubah pemandangan yang biasanya kita lihat di Iran. Ketika saya mengamati panggung tempat Imam Khomeini menyampaikan ratusan pidatonya, mata saya menangkap ketenangan, kemurnian, dan kesegaran fisik yang melayang-layang, atau lebih tepat lagi berkumpul dalam sebongkah energi yang kokoh dan tembus cahaya, yang sangat berbeda dengan hotel tempat kami menginap, bahkan berbeda dengan lingkungan mana pun yang pernah saya lihat dalam dua kali kunjungan saya ke Iran. Masjid saja tidak memancarkan sifat-sifat ini, sosok energi yang bulat. Mungkin Imam itu seorang manusia yang tercerahkan seorang sufi sejati atau barangkali lebih dari itu? Semua tanda menunjukkan bahwa apa yang terjadi di sini menyeruak kepada apapun yang terjadi di Iran di luar ruangan ini. Perasaan seperti ini hanya mirip dengan apa yang saya rasakan ketika saya berada di front pertempuran atau ketika saya berjalan-jalan di pemakaman Beheste Zahra. Saya hanya dapat menjelaskan perasaan ini dengan berasumsi bahwa barangkali kesyahidan itu ada, bahwa pelepasan ruh suci yang tiba-tiba dari tubuh, dengan membawa ruh itu ke langit karena niat syahid, telah menciptakan energi yang suci, energi yang dibekahi Allah sendiri.